Header Ads

Pangeran Saudi: Kantor Kedutaan Israel di Riyadh Segera Dibuka


Mantan Menteri Intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal, berharap agar kantor kedutaan Israel di Riyadh segera terwujud. “Kami semakin dekat dengan pembukaan kedutaan Israel di Riyadh. Kita harapkan hal itu segera terwujud.”

Dilansir dari Skypressiq.net, Senin (06/11/2017), pernyataan itu disampaikannya saat mengikuti simposium yang diselenggarakan Forum Kebijakan Israel di sebuah kuil Yahudi. Simposium itu sendiri membahas tentang keamanan di Timur tengah, dan digelar di kota New York pada (22/10) lalu. Disebutkan, acara simposium tersebut juga dihadiri mantan direktur Mossad, Efraim Halevy.

Pangeran Saudi itu juga bersyukur dapat menginjakkan kaki ke kuil Yahudi itu untuk pertama kalinya. Bahkan, ia juga berharap kesempatan tersebut bukan yang terakhir kali.

Dihadapan para hadirin, Pangeran mengatakan, “Kita mesti bicara dengan pihak yang berseberangan dengan kita, bukan dengan yang bersepakat dengan kita. Terlebih jika kita memiliki sudut pandang untuk meyakinkan orang lain. Seperti halnya masalah perdamaian di Palestina. Di sana ada perbedaan pandangan antara Arab dan Israel. Oleh itu, berbicara dengan pihak lain sangatlah penting.”

Lebih lanjut, al-Faisal juga menyebut negaranya telah menandatangani kesepakatan rahasia dengan Israel, karena memiliki musuh yang sama yaitu Iran. Namun ia juga menekankan, permasalah Palestina yang terus berlanjut akan menghilangkan kesempatan kerjasama skala besar antara Arab dan Israel.

Ia juga mendukung keputusan Presiden AS Donald Trump yang meratifikasi kesepakatan nuklir dengan Iran. Menurutnya, hal itu merupakan langkah positif.

Al-Faisal mengatakan, ada kepentingan bersama antara Saudi dan Israel menghadapi Iran. Tapi kerjasama kedua negara tak akan pernah berhasil selama pertentangan terkait Palestina tidak diselesaikan. Maka, tambahnya, penting untuk menggelar pembicaraan di atas meja perundinan, bukan di bawahnya.

Beberapa bulan terakhir, isu normalisasi hubungan dengan Israel berhembus kencang di Saudi. Isu-isu seperti itu merupakan hal yang haram dulunya. Namun aturan itu seakan tidak berlaku semenjak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi pimpinan di pemerintahan Saudi.

Fakta yang terjadi di Arab Saudi sejaman dengan pernyataan para pengamat Israel yang menyarankan agar negara penjajah itu memperbaiki hubungan dengan negara-negara Arab. Permusuhan bersama terhadap Iran dijadikan dasar sehingga normalisasi hubungan bisa terwujud.

Bahkan, media-media baru-baru ini ramai memberitakan kunjungan rahasia Pangeran Muhammad ke Israel pada September lalu. Sebuah berita yang dengan segera di bantah oleh Kementerian Luar Negeri Saudi. (bb/dwt)

No comments

Powered by Blogger.